Tetrasula Kebahagiaan

Oleh : BENNY ARNAS

BennyKarena seringnya mengunjungi Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Kota Lubuklinggau, seorang staf KPAD sempat berseloroh kalau saya memiliki jadwal ‘ngantor’ di sana tiga sampai empat hari per pekan.

Bagi saya, perpustakaan bukan hanya tentang (membaca) buku, tapi juga tempat yang nyaman untuk bekerja (baca: menulis), homebase Linggau Writing Class yang saya ampu, menemukan teman baru yang ‘ngeh’  perkembangan dunia, bertemu klien, dan tentu saja mengakses internet gratis. Perkara yang terakhir, saya ingin menceritakan hasil pengamatan saya: 7 dari 10 orang yang datang ke KPAD Lubuklinggau mengakses internet gratis dari laptop mereka ataupun dari komputer-komputer di ruang khusus internet.

Saya pernah bertanya, apa yang menyebabkan mereka betah berlama-lama mengakses internet di perpustakaan. Kalangan remaja dan pemuda menjawab, karena layanan wifi  perpustakaan jarang ‘ngadat’,  sebagaimana yang kerap mereka temui di warnet-warnet. Wajar saja kalau sering dijumpai pemandangan akan kerumunan remaja/pemuda yang sedang mendiskusikan topik tertentu dengan hangat dan begitu seru sembari berselancar di dunia maya dengan laptop.

Beda lagi halnya dengan orang dewasa (bapak-bapak/ibu-ibu). Tidak seperti kalangan di atas, mereka justru lebih memilih ruang komputer/internet daripada ruang baca. Selain karena jarang membawa—atau memang tidak memiliki—laptop, mereka berada di perpustakaan untuk tujuan yang sudah direncanakan dari rumah. Seperti Bu Ati (45), pengrajin rajutan yang kerap membawa anak perempuannya yang masih kuliah untuk membantunya mencari model-model rajutan yang sedang tren lewat berbagai laman di internet. Secara umum, orang dewasa yang gemar memanfaatkan komputer di ruang internet perpustakaan lebih disebabkan karena kebutuhan mereka akan ilmu dan inspirasi untuk usaha (rumahan) yang mereka tekuni. Praktisnya, lewat internet mereka bisa melihat gambar atau menonton tutorial pembuatan sebuah produk.

Perpustakaan dan Teknologi

Selintas lalu, apa yang terjadi di KPAD Lubuklinggau itu adalah kabar gembira bagi kita semua sebab perpustakaan perlahan-lahan telah menunjukkan fungsinya sebagai pusat pembelajaran, namun … apakah semua masyarakat Lubuklinggau bisa (rutin) ke perpustakaan kota, sebagaimana yang saya dan para pengunjung lain lakukan? Bagaimana dengan mereka yang tinggal di tempat yang cukup jauh? Di tengah kondisi perekonomian yang tak menentu, saya pesimis mereka rela mengisi bensin sepeda motor atau membayar ongkos angkutan umum (hanya) untuk berkunjung membaca buku atau wifi gratis.

Maka, ketika Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) menerima aplikasi saya sebagai relawan perpustakan pada Oktober 2014 lalu, saya menyambutnya dengan antusias. Perpustakaan, bakti tanah kelahiran, dan kerja sosial adalah trisula kebahagiaan yang rutin saya asah agar bisa memberikan kemanfaatan bagi khalayak. Namun, ketika saya bersama teman-teman relawan lain dipercaya untuk memfasilitasi Pelatihan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) (18-21 November 2014) dan Pelatihan Strategi Pengembangan Perpustakaan (1-4 dan 8-11 Desember 2014) di KPAD Lubuklinggau untuk 6 kelurahan—Sumber Agung, Taba Baru, Ponorogo, Cereme Taba, Margamulia, dan Tanah Periuk; saya merasa perlu menambah sebuah sula lagi untuk menyempurnakan kebahagiaan dan kebermanfaatan yang saya usahakan: perpustakaan, bakti tanah kelahiran, kerja sosial, dan TIK.

Pelatihan itu mempertemukan saya dengan Ibu Mai, perempuan 58 tahun warga Kelurahan Margamulia yang di hari pertama sulit mengendalikan mouse dan begitu lama memelototi keyboard untuk menemukan huruf atau angka yang hendak ia ketik, pada hari terakhir justru dapat mengisi post-test daring yang menuntut kemahirannya mengendalikan mouse dan mengetik di keyboard dengan baik.

“Jadi, mudah nian kalau nak menjumlahkan duit yo,” ujarnya ketika saya mendampinginya mengoperasikan program Excel. Matanya memancarkan kekaguman atas kedidgayaan teknologi yang baru ia ketahui. Mungkin, saat itu ia membatin bahwa  hasil usaha rumahan bisa ia rekap dengan menggunakan komputer anaknya di rumah. Ketika memasuki materi pembuatan akun Facebook, Ibu Mai terang-terangan menunjukkan ketercengangannya. Saya yakin, ada gelombang penyesalan dalam hatinya sebab merasa terlalu telat mengetahui teknologi, sebagaimana ada gejolak kegembiraan karena mendapati ‘mainan baru’ untuk memasarkan produk manik-manik yang sudah ia tekuni selama 15 tahun.

Saya juga berkenalan dengan Pak Kandar dari Kelurahan Cereme Taba, Pak RT berusia 62 tahun yang awalnya memiliki kesulitan yang tak jauh berbeda dengan Ibu Mai dalam mengoperasikan komputer. Kabar gembiranya: selain tak lagi perlu didampingi ketika mengisi post-test, di hari terakhir ia juga sempat bercerita kalau sudah belajar mengetik sendiri surat dan berkas-berkas administrasi warga—yang biasanya selalu ia limpahkan pada cucu atau orang lain yang ia upah—dengan  meminjam latop milik cucunya di rumah. “Sekarang baru nak belajar menggunakan Pesbuk (baca: Facebook)!” serunya ketika saya menanyakan tentang apa lagi hal menarik dari pelatihan yang ia ikuti.

Ternyata kesan mendalam yang saya rasakan terhadap peserta pelatihan, radarnya sampai pada mereka. Tanpa diduga, beberapa hari yang lalu, beberapa peserta pelatihan mengirimkan saya pesan pendek, termasuk  Ibu Mai dan Pak Kandar. Saya pun membalas dengan antusias. Ibu Mai berkabar kalau ia sudah membuat tiga jenis produk manik-manik yang terinspirasi dari gambar-gambar yang ia peroleh dari Google. Sementara Pak Kandar dengan semangatnya menanyakan kapan pelatihan komputer dan internet untuk masyarakat kelurahannya dilaksanakan sebab ia tak sabar lagi membuat proposal dan surat penawaran mitra dengan mengetiknya sendiri di komputer atau laptop. Saya tahu, ia tak sabar lagi ‘memamerkan’ kemajuannya kepada para peserta di lingkungannya—yang mungkin saja selama ini tak menyangka kalau ia bisa ‘bersahabat’ dengan komputer. Tanpa disadari, kedua mata saya hangat dan beberapa saat kemudian, punggung tangan saya terpaksa mengelap air asin yang mengalir dari ekor mata.

Apa yang Ibu Mai dan Pak Kandar alami sejatinya menunjukkan kalau kecakapan komputer dan sadar-internet telah membuat grafik kualitas hidup mereka bergerak ke atas. Tentu saja, kita tidak ingin kabar gembira itu berumur pendek dikarenakan perpustakaan kelurahan tidak mampu menjalankan perannya dengan optimal, bukan?

Menghidupkan Perpustakaan Kelurahan

Dua belas hari pelatihan yang kami fasilitasi itu, memberi saya banyak pengalaman dan masukan berharga tentang (optimalisasi) peran kelurahan dalam menjadikan perpustakaannya sebagai pusat pembelajaran masyarakat berbasis TIK. Keberadaan perpustakaan dengan akses internet gratis di kantor kelurahan adalah kabar gembira bagi masyarakat marginal (?) yang masih menganggap dua hal itu sebagai barang langka, mewah, dan tak tersentuh.

Saya pikir, banyak orang-orang seperti Ibu Mai dan Pak Kandar yang belum tersentuh oleh komputer dan belum mendapatkan pencerahan tentang manfaat internet bagi kehidupan karena akses yang tidak mudah dijangkau dan kurangnya kepedulian untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, bantuan 3 unit komputer yang diberikan CCFI kepada sejumlah (perpustakaan) kelurahan di Indonesia adalah kontribusi nyata untuk mendekatkan masyarakat desa/kelurahan dengan TIK sebagai bagian dari pelayanan prima perpustakaan.

Semoga Ibu Mai dan Pak Kandar dan masyarakat lainnya akan tetap bersetia mengunjungi (perpustakaan) desa/kelurahan bukan hanya ketika ada urusan dengan kependudukan, tapi karena mereka memang senang melakukannya; meminjam buku dongeng untuk anak, bertemu pengunjung lain untuk sekadar berbagi resep dan cara menghadapi cucu yang rewel, dan tentu saja untuk mengakses internet sebagai kitab ilmu pengetahuan dengan halaman tak terbatas.

Untuk mencapai semuanya, tentu tidak mudah. Tapi, “tidak mudah” bukan berarti “mustahil”. Bagi orang-orang yang mencintai masa depan bangsa ini, hambatan bukanlah alasan untuk tidak produktif, melainkan tantangan untuk menjadi kreatif.

Semoga banyak orang yang membersamai dan mendoakan kerja bahagia ini. Amin.(*)

Lubuklinggau, 16-17 Desember 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam