PT Perkebunan Nusantara X –pengelola 11 pabrik gula di Jatim—dalam musim tanam tebu 2012 – 2013 saat ini mengucurkan dana kredit lunak senilai Rp550 miliar kepada petani tebu, dengan memanfaatkan dana program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) dari 14 BUMN.

Sinergi sesama BUMN itu merupakan kelanjutan dari program serupa tahun lalu, dimana realisasi pengucurannya dalam musim tanam tebu 2011 – 2012 senilai Rp450 miliar dalam musim tanam tebu 2011-2012. Pemberian pinjaman dana terhadap petani tebu disebutkan tidak mengalami kemacetan, karena pengembaliannya dipotong langsung sesudah hasil panen tebu digiling di pabrik gula.

Kepala Bidang PKBL PT Perkebunan Nusantara X (Persero) Wasis Pramono mengatakan nilai dana pinjaman yang ditujukan petani tebu sebesar Rp25 juta/hektare lahan tebu, sedangkan bunganya 6%/tahun sesuai ketentuan pelaksanaan PKBL.

Menurutnya, sejumlah BUMN melibatkan diri dalam penyaluran dana program kemitraan dengan para petani tebu di wilayah kerja PTPN X. BUMN tersebut mencakup yang berkantor pusat di Jatim maupun di Jakarta a.l. PT Pertamina, PT Pelabuhan Indonesia, PGN, Bukit Asam, Aneka Tambang,  karena memiliki dana besar dan kesulitan mencari mitra yang tepat.

“Ada 13 BUMN yang kami gandeng (14 BUMN dengan PTPN X) untuk mengucurkan dana program kemitraan dengan petani tebu, dengan total pinjaman dalam musim tanam 2012 – 2013 senilai Rp550 miliar. Diantaranya dana dari kami Rp15 miliar,” ujarnya, hari ini (Senin, 10 Desember).

PTPN X mengandalkan pasokan tebu dari petani guna memenuhi kebutuhan bahan baku 11 pabrik gula (PG), karena BUMN tersebut tidak memiliki lahan hak guna usaha (HGU). Dalam musim giling tahun ini (yang berlangsung Mei – November) PTPN X memperoleh pasokan tebu sebanyak 6 juta ton dari areal seluas 72.125 hektare, dengan produksi gula 494.193 ton.

Wasis menambahkan pola kemitraan dengan petani tebu yang dikembangkan PTPN X akan diadopsi oleh BUMN bidang industri gula lain seperti PTPN XI dan PTPN XIII.

Soalnya, pengembalian dana pinjaman dari petani tebu tidak mengalami tunggakan sama sekali. Selain itu, memudahkan para petani dalam mengakses dana kredit untuk modal budidaya tebu, sekaligus meningkatkan volume pasokan tebu ke PG.

“Sejauh ini kami memiliki sekitar 11.000 mitra binaan, termasuk para mitra yang bergerak di bidang industri mikro kecil seperti produsen makanan minuman, kerajinan, batik, dan lainnya lagi,” tuturnya.