Perpuseru dan Orang-Orang Gila

stock2012
Jumat, 17 Oktober 2014, pukul 2 dini hari, saya dan seorang teman, menumpangi travel menuju Bandara Fatmawati, Bengkulu, untuk selanjutnya terbang ke Bali via Jakarta. Sejatinya kami bisa saja menempuh perjalanan itu lewat Bandara Sultan Mahmud Badarudin II di Palembang atau bahkan Bandara Silampari yang berada di Lubuklinggau, tapi kabut asap yang menjadikan sebagian besar daerah di Provinsi Sumatera Selatan sebagai “negeri di atas awan” mengurungkan niat kami.
Kami tiba di Bandara Ngurah Rai waktu asar. Hanya orang-orang bodoh yang akan menghabiskan sembilan hari di pulau romantis seperti Bali dengan hanya berada di Best Western Premiere Hotel dan mengabaikan pantai-pantainya yang indah, pura-pura yang eksotik, upacara-upacara adat yang mistik dan genuine, dan tentu saja bebek betutu gemar memanjakan lidah. Tapi… kami semua bukanlah sekumpulan public figure yang dibayar sebuah TV yang akan menyiarkan kabar perjalanan menyenangkan kepada khalayak. Kami adalah relawan perpustakaan. Kami adalah fasilitator Perpuseru, sebuah program dari Coca Cola Foundation yang ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat lewat penguasaan teknologi (internet). Untuk mencapai tujuan itu, perpustakaan adalah medianya dan kami para fasilitator akan berpegangan erat lewat tangan yang direntangkan demi menjadi jembatannya. Mengapa perpustakaan? Ah, Tuhan memiliki cara yang manis untuk kembali menggeliatkan lembaga yang selama ini sudah terlalu akrab dengan buku-buku berdebu, kelengangan yang absurd, dan tempat pembuangan pegawai pemerintahan yang bermasalah. Bill Gates, salah satu orang terkaya di jagat ini, ternyata memiliki kedekatan historis dan psikologis dengan perpustakaan. Gudang buku itulah yang menjadi sahabatnya ketika ia harus drop out dari kampusnya sebelum akhirnya ia dengan begitu cemerlang mengejutkan dunia dengan Microsoft-nya. Lewat yayasan atas namanya dan istri, Bill & Melinda Gates Foundation menunjuk Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) sebagai pihak yang akan memudahkan niat balas-budinya kepada perpustakaan. Maka, Perpuseru ini pun hadir. Maka, 41 fasilitator Perpuseru ini pun dijaring untuk tugas sosial. Maka, kabar gembira untuk kehidupan pun lamat-lamat mulai disiarkan dan diusahakan. Maka, lilin-lilin pun dinyalakan di tengah kegelapan yang riuh dengan makian.
Hingga 22 Oktober 2014, kami beroleh bekal yang luar biasa dari para instruktur yang tidak pernah memosisikan diri sebagai orang yang lebih tahu dari kami. Kami sama-sama berbagi tentang cara-cara menjadikan masyarakat desa/kelurahan untuk melihat dunia lewat teknologi dengan merangkul mereka, melibatkan mereka, hingga mereka mandiri dan merasakan manfaat yang nyata—khususnya di bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan—dari program ini. Penggemblengan dengan pendekatan partisipatif yang dilakukan instruktur membuat kami lupa kalau perkara ini bukan tugas ringan, membuat kami abai tentang keindahan Bali yang seharusnya kami kemas ke dalam perjalanan dan ingatan, membuat kami sadar kalau menyebarkan kebaikan sejatinya bukanlah pekerjaan, tapi kebiasaan yang dilakukan dengan penuh kegembiraan.
Ya, kami berbagi, belajar, dan pada akhirnya merumuskan bagaimana caranya mengadvokasi pihak-pihak pengambil kebijakan untuk memerhatikan anggaran perpustakaan dan bagaimana membuat pihak-pihak swasta mengambil peran dalam membangun bangsa dengan menjadi mitra perpustakaan. Kami yakin kalau banyak dari mereka yang tidak tahu kalau ada Wahid, seorang juru parkir di Pamekasan yang akhirnya dapat hidup lebih baik lewat usaha beternak ayam bangkok yang ia pelajari (dan promosikan) lewat informasi tentang cara beternak unggas yang baik dari buku dan internet di perpustakaan; ada Awiek Hadi Widodo, fasilitator perpustakaan yang juga seorang pimpinan kursus komputer di Kabupaten Tabalong yang menyelenggarakan kursus komputer dan internet gratis bagi masyarakat, dan Agus Munawar yang rela menjual mobil satu-satunya untuk mengkredit sebuah rumah yang ia jadikan taman bacaan masyarakat (TBM) Sudut Baca Soreang, dan masih banyak lagi kabar baik bagi kemanusiaan yang cahayanya menguar dari bilik-bilik perpustakaan di pelbagai penjuru.
Saya selalu bergairah sebab selalu ada kemaslahatan yang diam-diam saya raup ke dalam kantong kegembiraan yang menyuruk di kepala, dada, tawa, keringat, dan mimpi-mimpi yang berserakan. Ah, maafkan saya yang tak sabar lagi membagi cerita. Saya terlalu antusias untuk memberitahu khalayak bahwa ada bibit di balik gedung-gedung pencakar awan yang diam-diam disiram oleh para relawan. Saya harus melakukan ini sebab di sini saya juga belajar bahwa ada kalanya memaklumatkan kebaikan adalah keniscayaan sebab ia akan menumbuhkan kebaikan-kebaikan yang baru.
Untuk itu semua, saya merasa perlu membuat sebuah puisi untuk saya bacakan di pembukaan acara di Bali beberapa hari yang lalu. Dalam puisi yang emosional tersebut saya menyebut kami semua sebagai orang-orang gila—ya, memilih mengabdikan diri untuk perpustakaan adalah salah satu pekerjaan aneh abad ini! Walaupun saya tahu bahwa selalu ada kemungkinan bahwa beberapa dari kami hanya sekadar berakting menjadi orang gila dan lamat-lamat meninggalkan jalan ini demi sebuah kewarasan (Tuhan, kami berlindung kepada-Mu agar terhindar dari godaan orang-orang waras yang terkutuk).
Maka, siapa pun yang membaca tulisan ini, kami ingin mengajak kita menyiarkan secara luas kepada masyarakat bahwa perpustakaan bukan lagi tentang buku berdebu dan kelelengangan yang absurd, melainkan pusat pembelajaran yang menyenangkan sebab teknologi bisa membawa mereka ke mana saja, bisa mengembangkan senyum anak-anak yang untuk pertamakalinya mengenakan seragam sekolah, untuk melihat kesibukan ibu-ibu yang menjajakan dagangannya di dunia maya—bahwa perpustakaan dan teknologi adalah kawan akrab yang bisa menumbuhkan sayap dari kedua punggung untuk terbang menembus batas!
Dan itu adalah tugas semua orang yang peduli terhadap bangsa ini.(*/ce6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam