Perpusdes Wedelan, Terbatas Sumberdaya Menembus Batas Positif Deviance

Oleh : Tahiyatur Ratih

1 Tahyatur ratihPertanyaan tentang definisi perpustakaan, dijawab dengan jawaban yang sama, masif dilantangkan baik itu pengelola perpustakaan, pemustaka, masyarakat maupun perangkat desa yang kami temui. Perpustakaan adalah sebatas tempat menyimpan buku, membaca buku dan meminjam buku. Perpusdes (perpustakaan desa) dibuka apabila ada pengunjung yang akan pinjam atau mengembalikan buku, tidak wajib dibuka setiap hari dengan dalih sepi tidak ada peminat, atau pengelola perpusdes duduk selama jam layanan menunggu pengunjung datang. Pertanyaan lainnya pernahkah Perpustakaan membuat kegiatan dengan dana dari swadaya maupun proposal, jawabannya adalah pernah namun sering ditolak sehingga kegiatan tidak jadi.

Ironi, konsep perpustakaan yang diatur Undang-undang No. 43 tahun 2007 menyebutkan bahwa perpustakaan  adalah sarana pembelajaran sepanjang hayat untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Di bab 5 pasal 14 disebutkan setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, pengembangan perpustakaan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Di bab lain disiratkan penting untuk melibatkan masyarakat dan perlu kerjasama dari berbagai pihak untuk memajukan perpustakaan sehingga pengembangan perpustakaan dilakukan secara berkesinambungan sebagaimana Bab 6 pasal 19. Landasan Undang-undang tersebut tidak banyak dipahami oleh pelaku perpustakaan maupun Masyarakat sebagai Pengguna.

Kegiatan perpustakaan selama ini dipandang sebagai tanggungjawab pengelola perpus semata, minim anggaran,  kebingungan kegiatan apa yang cocok dengan buku-buku diperpustakaan sedangkan minat baca masyarakat rendah dan dianggap kegiatan tentang buku-buku tidak banyak memberi manfaat secara langsung kepada masyarakat. Tekanan persepsi ini menambah alasan bagi pembuat anggaran mengalokasikan dana kecil dan cenderung menurun tiap tahun untuk pengelolaan perpustakaan.

Ketika pembicaraan lebih jauh kami lakukan saat mentoring dengan pengelola perpustakaan, ada keinginan untuk memajukan perpustakaan, namun persepsi masih orientasi pada kegiatan Perpustakaan bukan kepada kebutuhan Masyarakat, alih-alih bisa melaksanakan, minim anggaran membuat dilema pengelola perpus untuk merengkuh bulan.

Maka penting adanya perubahan pola pikir pengelola perpus maupun semua pihak yang terlibat untuk memandang amanah undang-undang sebagai tanggungjawab bersama. Kehadiran program Perpuseru dalam pelatihan strategi pengembangan Perpustakaan kepada Perpusdes bagaikan oase dan bom waktu bagi impian-impian memajukan perpustakaan. Keberanian  terkumpul untuk membuat aksi dahulu tanpa berfikir dana melainkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat yang bisa difasilitasi perpustakaan, sehingga muncul keyakinan apabila sudah ada kegiatan maka mitra maupun Stakeholder akan datang.

Mindset yang dibangun fokus pada menjadikan perpustakaan menjadi pusat pembelajaran Masyarakat yang berkelanjutan/berkesinambungan berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kualitas hidup Masyarakat. Dengan kata kunci manfaat untuk Masyarakat ditambah dengan advokasi sama dengan keberlanjutan.

Memotret Perpustakaan Melati Indah Wedelan, setelah perubahan mindset dan pengembangan SDM didapat dari pelatihan strategi pengembangan perpustakaan, secara eksplisit mereka mulai menetapkan  permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perpustakaan, antara lain kurangnya promosi, SDM pengelola perpustakaan kurang, dana perpustakaan kecil, Masyarakat kurang mengetahui manfaat perpustakaan, koleksi buku terbatas dan tidak ada dukungan ataupun mitra. Tentunya permasalahan yang dihadapi Perpusdes Wedelan hampir merata dialami oleh sebagian besar perpustakaan lainnya, namun ada sebagian perpustakaan dengan sumberdaya yang sama dan permasalahan yang sama tetapi mampu berkembang lebih baik. Maka sampailah pada tahapan menentukan role model untuk dicontoh.

Setelah menentukan role model, Perpusdes Wedelan menemukan untuk melakukan strategi yang paling bisa dilaksanakan segera dan mampu dilaksanakan. Diputuskan dua langkah yaitu pertama  sosialisasi ke setiap kegiatan yang ada di desa yang telah rutin dilaksanakan dan menceritakan (melobi) pada orang-orang yang dianggap potensial menjadi mitra. Yang kedua melakukan kegiatan dulu, aksi dulu yang ramah anggaran (tanpa anggaran) yang bisa dilakukan sehingga Masyarakat mengetahui keberadaan Perpustakaan.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Perpusdes Wedelan untuk merancang kegiatan, sejak minggu pertama Desember hingga minggu pertama Januari bulan berikutnya, tanpa mengeluarkan dana telah mampu berkegiatan tepatnya banyak kegiatan, antara lain terkait promosi: sosialisasi di RT, RW, PKK desa, rapat BPD dan perangkat, sosialisasi di paguyuban-paguyuban, di pengajian-pengajian, membuat senam aerobic setiap minggu pagi, menyurati sekolah PAUD, TK maupun SD di wilayah desa untuk berkunjung. Adapun terkait dengan kemitraan dan lobi antara lain: Bu Yanti  membuatkan banner Perpustakaan, seorang Donatur menyumbang untuk dekorasi interior, KKN IKIP Veteran Semarang menjadi instruktur dan mendanai seluruh kegiatan pelatihan berbahan kedelai ibu-ibu, beberapa relawan menjadi instruktur pelatihan komputer dasar bagi  anak SD, perpustakaan keliling setiap malam minggu di rumah les Bu Sa’adah, kenaikan anggaran untuk pemasangan speedy internet. Dalam 5 minggu ini perpustakaan Desa Wedelan telah melakukan 4 kegiatan pelatihan komputer dasar diikuti 74 peserta, pelatihan wirausaha pembuatan makanan berbasis kedelai (tahu, susu kedelai, donat dang nugget) sebanyak 4 kali pelatihan diikuti 164 peserta perempuan, empat kali senam aerobic rutin tiap minggu pagi.

Kami coba menjabarkan kegiatan ramah anggaran (tanpa anggaran).  Modal pengelola perpustakaan untuk sosialisasi cukup dengan mengetahui sebanyak-banyaknya informasi kegiatan yang akan berlangsung dilingkungan desa, kemudian menghubungi pengurus atau panitia dan selanjutnya meminta waktu untuk sosialisasi perpustakaan, mudah saja hanya berbekal informasi tanpa mengeluarkan biaya malah terkadang pulang bawa snack jajan.

Selanjutnya kegiatan Pelatihan Pengelola Perpusdes menginformasikan kepada sasaran kegiatan (dalam kegiatan ini adalah anak-anak SD) untuk datang diwaktu-waktu pelatihan yang telah dijadwalkan, instruktur adalah relawan terdiri dari pengurus PKK, Mahasiswa KKN dan warga untuk datang sesuai kesepakatan jadwal. Setelah peserta dan instruktur siap, pengelola perpustakaan standby dan mempersilakan peserta yang lebih dulu untuk pelatihan lebih dulu, system antri dokter karena jumlah komputer hanya 4 unit, peserta yang datang berikutnya menunggu giliran dengan cara membaca buku-buku yang ada di Perpus, setiap peserta diberi waktu 15-30 menit untuk praktek, materinya pun bertahap. Apabila Instruktur Relawan harus pulang maka pengelola perpus menggati peran tersebut atau terkadang ada juga peserta yang mampu mengajari kepada perserta lainya yang belum bisa. Durasi waktu pelatihan adalah selama jam layanan atau sampai seluruh peserta selesai. Peserta kegiatan yang sudah bisa termotivasi untuk mengajari yang belum bisa. Sehingga dari sekilas hiruk pikuk aktifitas keramaian ruang perspus tampak sekali guyub dan kebersamaan antar peserta.

Kegiatan berjalan tanpa mengeluarkan dana untuk snack dan lainnya. Mudah sekali kegiatan berikutnya juga berjalan sama, materi pelatihan untuk anak-anak bertahap telah disusun oleh Pengelola perpus mulai dari pengetahuan dasar perangkat komputer, cara menghidupkan dan mematikan dengan benar, menggambar di komputer, mengetik surat/mengarang sederhana, membuat pengumuman hingga pada Microsoft excel dan internet sehat.

Adapun untuk pelatihan Pembuatan tasudona (tahu, susu kedelai, donat dan nagget), mitra Perpusdes Wedelan adalah Mahasiswa KKN IKIP Veteran Semarang dan PKK Desa. Sehingga beberapa Program kerja mahasiswa KKN tersebut ditangkap dan dikelola oleh Perpusdes. Perpusdes memfasilitasi tempat pelatihan dan kebersihan serta materi internet bagi RTL peserta. Mahasiswa KKN menyiapkan kebutuhan mulai dana, alat dan bahan serta instruktur kegiatan, PKK Desa memastikan kehadiran ibu-ibu dari perwakilan setiap RW di Desa Wedelan. Mudah bukan, perpusdes tetap bisa ambil peran tanpa mengeluarkan dana dan mahasiswa KKN sangat terbantu secara teknis dan promosi.

Berbagai macam kegiatan telah didokumentasikan secara sederhana oleh Pengelola perpusdes, tampak sekali keramaian kunjungan di Perpusdes, Masyarakat sudah mulai mengetahui dan merasakan manfaat yang riil kegiatan Perpusdes, hal ini memudahkan Pengelola perpustakaan melakukan advokasi. Kepala Desa dan BPD memprogramkan kenaikan ADD untuk dana perpustakaan 2015 sehingga speedy bisa terpasang dan rencana renovasi gedung 2015, semoga berkelanjutan lebih banyak mitra dan pemangku kebijakan yang berpihak.

Semangat yang dimiliki Pengelola perpusdes telah memberdayakan masyarakat bahwa adanya perpustakaan adalah sebagai pusat pembelajaran dan inspirasi, terlalu dini memang untuk mengklaim berhasilan mereka, namun ini adalah trobosan luar biasa yang bisa dilakukan oleh perpustakaan desa dengan segala kekurangan fasilitas dan sumberdaya. Dari beberapa indakator langkah pengelola tersebut maka tidak berlebihan apabila Perpusdes Wedelan dikatakan telah melakukan langkah-langkah positive deviance.

Positive deviance atau penyimpangan positif merupakan sebuah pendekatan untuk menciptakan perubahan sosial dan perilaku, berdasarkan pengamatan bahwa disetiap masyarakat terdapat individu-individu/institusi yang memiliki perilaku tidak umum/biasa, namun karena itu mereka menemukan solusi lebih baik dibanding individu/institusi lain yang mengalami masalah yang sama (positive deviance perpuseru hal:1)

Bicara tentang dampak, menguji apakah langkah-langkah kegiatan sebelumnya mampu memberikan hasil. Sebelum Bulan Desember angka kunjungan perhari rata-rata adalah 10-15 pengunjung mayoritas anak SD. Sejak Bulan Desember sampai hari ini angka kunjungan naik menjadi 40-50 orang perhari, dari beragam usia dengan durasi waktu pelayanan lebih panjang yaitu  dari jam 08.00- 16.00 dibantu satu relawan yang jaga perpus di siang hari. Salah satu Pengelola perpustakaan juga merasakan dampak secara langsung bagi peningkatan SDMnya, namanya Ibu Nikmatun, kesehariannya adalah ibu rumah tangga dengan SDM terbatas, tidak pernah bicara didepan forum, teringat sewaktu pelatihan saat kami tunjuk untuk presentasi, bu Nikmatun menolak dan terlihat muncul keringat dingin, tangan gemetar serta mau menangis. Namun seiring berjalannya waktu dengan kemauan, semangat dan ketekunan yang ikhlas dalam mengelola perpusdes, sekarang Bu Nikmatun menjadi salah satu instruktur pelatihan komputer dan internet, berani presentasi di forum dan menjadi ujung tombak sosialisasi perpusdes, berhasil melobi donatur, dan mampu mengatasi permasalahan tentang teknis dasar perangkat komputer. Proses belajar yang cepat atau bahkan singkat dan padat  untuk meningkatan SDM  masyarakat.

Mengutip dari buku positive deviance perpuseru, “berkat penerapan metode positive deviance ini, sekarang kita bisa say goodbye pada setiap masalah yang membutuhkan perubahan perilaku dan perubahan sosial, karena kita sudah menemukan solusinya. Dengan demikian, upaya pengembangan perpustakaan menjadi pusat kegiatan dan belajar masyarakat berbasis teknologi informasi dan komunikasi bisa berlangsung lebih cepat, sehingga kualitas hidup merekapun meningkat dengan cepat pula. Mari kita dukung pengembangan perpustakaan yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dan juga peningkatan kualitas layanan perpustakaan itu sendiri. Tetap positif dan Semangat!” (positif deviance perpuseru: hal 28)

Perpusdes Wedelan telah melaksanakan serangkaian langkah positif deviance menemukan cara untuk mengembangkan perpustakaan. Mereka menyumbangkan ide dan pemikiran, menemukan solusi yang berkesinambungan, mengubah prilaku dengan praktek. Mereka ahli terbaik untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Minggu keempat bulan Desember, Perpusdes Wedelan telah menyusun rencana tindak lanjut untuk program kerja bulan Januari – Maret 2015. RTL ini adalah representasi langkah menyebarluaskan strategi yang teruji. Perpusdes Wedelan terbatas sumber daya menembus batas positive deviance.

Jepara, 4 Januari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam