Pacu Produksi Kedelai, Lamongan Andalkan Jenis Grobogan

kedelai-panen

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur membentuk klaster khusus tanaman kedelai di Lamongan Jawa Timur, yang produktivitasnya ditarget mencapai 2,5 ton/ha untuk memenuhi tingginya permintaan domestik dan menjaga laju inflasi.

Kepala BI Jatim Benny Siswanto menjelaskan sebagai komoditas strategis pengganti protein hewani, kedelai telah ditetapkan sebagai salah satu bahan pokok yang diprioritaskan pemerintah untuk dikembangkan di dalam negeri agar harganya terjangkau.

“Pengembangan klaster kedelai ini merupakan upaya penguatan sinergi BI dan pemda dalam rangka mengembangkan sektor riil, khususnya dalam pengendalian inflasi komoditas pangan,” tuturnya di sela-sela penandatanganan MoU dengan Pemkab Lamongan, Jumat (3/7/2015).

BI Jatim mencatat kedelai sebagai salah satu komoditas pangan strategis dan komoditas volatile foods yang memberikan sumbangsih inflasi sebesar 0,01% (data April 2015) di provinsi beribukota Surabaya itu.

“Ketidakseimbangan permintaan dan penawaran adalah penyebab terjadinya inflasi kedelai, sehingga diperlukan tindakan untuk mendukung ketersediaan dan keseimbangan pangan yang dimaksud.”

Untuk diketahui, total kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,2 juta ton/tahun dan lebih dari separuhnya diimpor. Sementara itu, Jatim hanya mampu memproduksi kedelai rata-rata 420.000 ton/tahun dan mengimpor 65.000 ton/tahun untuk bahan baku tempe.

Di Lamongan, kata Benny, terdapat lahan tanaman kedelai seluas 24.000 hektare dengan produktivitas hanya 1,4 ton/ha. Sebagian besar lahan tersebut ditanami varietas willis dan hanya panen satu kali tanam dalam setahun.

Untuk program klaster yang dicanangkan BI, varietas yang akan ditanam adalah kedelai grobogan yang rata-rata produktivitasnya mencapai 2,5 ton/ha. Varietas tersebut, sebut Benny, dikembangkan oleh Adi Wijaya dari Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

“Secara khusus, kami ingin mengembangkan varietas yang sesuai untuk mencapai tingkat produktivitas yang dicapai. Saat ini, rerata produktivitas hanya 1,4 ton/ha. Dengan teknologi budidaya baru, diharapkan dapat naik menjadi 2-2,5 ton/ha.”

Adapun, teknologi baru yang diperkenalkan BI a.l. aplikasi pupuk organik pada budidaya kedelai dan melakukan rintisan pengembangan budidaya kedelai untuk keperluan benih dengan spesifikasi JABAL (jaringan benih antarlapang).

sumber: Bisnis.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam