Ketika Internet Masuk Desa

**Rahmatia Nuhung – Fasilitator Perpuseru Kab. Enrekang**

1 RahmatiaInternet bagi masyarakat pedesaan adalah perkara yang masih dianggap mahal. Dan untuk dapat mengakses internet mereka harus bersusah payah mencari jalan dan membayar dengan biaya mahal. Padahal sejatinya internet adalah kebutuhan yang manfaatnya sama bagi siapa saja. Internet memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan buku sebagai jendela informasi. Bahkan kekuatan audio visual yang dimiliki internet memberikan dampak yang lebih besar dan kuat bagi perkembangan pengetahuan masyarakat.

Adalah Desa mampu dan Bambapuang di Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang, kini benar-benar merasakan manfaat internet yang setiap saat dapat mereka akses melalui perpustakaan desa (perpusdes). Melalui program Perpuseru yang mengembangkan perpustakaan berbasis Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK).

Masyarakat di kedua desa tersebut menikmati layanan internet tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal. Mereka tidak lagi harus jauh-jauh ke kota untuk sekedar mengunjungi warnet yang jumlahnya pun sangat terbatas. Tidak jarang mereka harus antri sebelum masuk warnet karena jumlah pengunjung yang tidak sebanding dengan jumlah komputer yang tersedia.

Kini, masyarakat di kedua  desa yang jaraknya kurang lebih 60 kilometer dari kota kebupaten itu menikmati kemudahan akses internet dan jaringan wi-fi yang disediakan oleh perpusdes masing-masing. Perpustakaan desa yang dulunya sepi, kini menjadi lebih sering dikunjungi oleh masyarakat sekitar. Koneksi internet yang mulai aktif pada pertengahan Nopember yang lalu itu memiliki daya tarik yang cukup besar dalam meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan.

Para pelajar kini lebih mudah dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah mereka. Beberapa pegawai pun ikut menggunakan layanan internet di perpustakaan untuk mengerjakan tugas-tugas kantor mereka. Para pemuda yang dulunya lebih banyak nongkrong tanpa topic bahasan yang jelas, kini sebagian lebih memilih ke perpustakaan untuk bermain internet. Kaum perempuan pun seakan tidak ingin ketinggalan, mereka kerap hadir untuk sekedar melepas rasa penasaran mereka terhadap internet. Beberapa bahkan mencari informasi terkait kegiatan mereka sehari-hari di rumah.

Apa yang dirasakan oleh masyarakat dari kedua desa tersebut adalah gambaran betapa internet merupakan hal yang sudah menjadi kebutuhan bagi mereka, yang sangat menunjang sebagian tugas dan pekerjaan mereka. Pun karena mereka sudah menyadari bahwa internet adalah sumber informasi yang mudah, cepat dan aktual. Internet mampu membuka wawasan mereka tentang perkembangan yang terjadi di luar sana. Berita yang tidak sempat mereka saksikan di televisi, dapat mereka akses melalui internet. Sehingga tidak ada istilah kurang update lagi bagi masyarakat desa yang sudah menikmati internet.

Masuknya internet di dua desa tersebut sebetulnya cukup terlambat jika kita membandingkan dengan degnan program Internet Masuk Desa yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2008 yang lalu. Meski demikian, tidak ada kata terlambat bagi siapa saja yang ingin belajar. Negara kita dengan luas wilayahnya sekarang, sangat wajar jika kemudian masih terdapat desa yang belum menikmati internet hingga saat ini. Tentunya hal tersebut tetap akan mennjadi tantangan sekaligus pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Dicanangkannya internet masuk desa bertujuan untuk pemerataan akses teknologi informasi dan komunikasi (TIK) hingga ke pelosok, meminimalisir kesenjangan informasi di segala bidang, dan terciptanya koneksi antara masyarakat dengan pemerintah, pengusaha serta berbagai pihak terkait atau sebaliknya. Ini tentunya sangat sejalan dengan program Perpuseru yang mengembangkan perpustakaan desa berbasis teknologi informasi dan komunikasi, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Hadirnya internet di desa, harus dibarengi dengan dukungan resgulasi yang kuat dari pemerintah. Ini menjadi penting mengingat latar belakang pendidikan setiap warga di desa sangat beragam sehingga sangat mempengaruhi mereka dalam menggunakan dan menyikapi dampak internet dalam kehidupan sehari-harinya. Upaya pemerintah memblokir sejumlah situs yang berbau pornografi, harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat dari pengurus perpustakaan. Karena pemerintah sampai saat ini belum berhasil memblokir keseluruhan situs-situs pornografi disebabkan pertumbuhan situs-situs tersebut sangat pesat setiap harinya.

Meski sebagian masyarakat desa sudah mulai akrab dengan internet, namun sebagian besar mereka masih butuh sosialisasi agar tidak pasif dalam memanfaatkan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang telah disediakan oleh perpusdes. Olehnya itu, adalah sangat penting bagi pemerintah desa untuk menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang dapat mengelola perpustakaan desa menjadi lebih aktif, dan mampu memberikan pelayanan yang nyaman bagi setiap pengunjung yang datang.

Keterbatasan SDM yang ahli dibidang teknologi komunikasi dan informasi (TIK), tidak sedikit menjadi penyebab kurang optimalnya pemanfaatan internet di perpustakaan desa. Kekurangan teknisi yang handal dalam menangani infrastruktur TIK menyebabkan perangkat yang ada lebih lama menganggur dari pada termanfaatkan. Bahkan di beberapa kantor desa sekalipun, para staf tidak dapat berbuat banyak ketika mengalami masalah dalam mengoperasikan perangkat yang ada. Hal tersebut dipastikan akan dapat menghambat tugas dan pekerjaan mereka terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Keadaan demikian tentunya membutuhkan kebijakan khusus dari pemerintah desa untuk menyiapkan anggaran desa khusus pemeliharaan perangkat komputer dan peralatan elektronik terkait,, juga penyediaan tenaga teknisi yang siap mem-back up jika sewaktu-waktu terjadi kerusakan. Karena secanggih apapun infrastruktur yang tersedia, jika tanpa didukung oleh komitmen pemerintah desa setempat, maka akan memberikan dampak yang kurang maksimal bagi masyarakatnya. Semoga dengan hadirnya internet di pedesaan, semakin membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi dan pengetahuan, serta menguatkan komitmen pemerintah desa dalam mengembangkan perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar masyarakat yang berbasis TIK.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam