Fasilitasi dengan Hati

Oleh : Ahmad Sochib

Ahmad SochibAir mata diseka dengan punggung tangan kiri. Sementara satu tangan lain bergerak mengikuti lagu tentang perpisahan. Gerakan tangan spontan tanpa sadar seperti itu hampir dilakukan semua peserta perempuan pelatihan. Air yang keluar dari sudut mata bukan dibuat-buat. Tapi keluar dengan sendiri. Keluar dengan tanpa paksaan. Sebuah pemandangan detik-detik akhir pelatihan yang bikin ‘melo’ siapa saja yang melihat.

Proses pelatihan program Perpustakaan Seru (Perpuseru) dikemas tidak seperti pada pelatihan lain. Pembelajaran bagi orang dewasa terasa betul dirasakan. Dari mulai belajar dua arah dengan lebih banyak memancing ide peserta. Diselingi pemutaran video. Disegarkan permainan yang menarik. Dan satu lagi yang bikin hidup pelatihan, bertaburnya bintang. Bagi peserta yang aktif akan mendapatkan bintang. Setiap hari di akhir pelatihan, perolehan bintang diakumulasi untuk mendapatkan cinderamata.

Sungguh ‘seru’ ketika metode pelatihan Perpuseru menyentuh masyarakat pedesaan. Masyarakat desa yang peduli perpustakaan desa. Selama ini mereka hanya mengenal belajar satu arah saat masih sekolah. Apalagi merasakan permainan pelatihan serta apresiasi bintang saat aktif di kelas. Perasaan seperti itu dilontarkan perwakilan peserta saat memberi kesan pelatihan di acara penutupan. Padahal yang memberi kesan seorang pemuda yang masih aktif kuliah. Dalam benak saya, apalagi kesan bagi peserta lain yang jarang atau tidak pernah sama sekali ikut pelatihan. Kesan yang mereka diterima pasti akan lebih seru lagi.

Sebagai fasilitator saya merasakan langsung kelebihan konsep Perpuseru. Selesai acara pembukaan resmi, peserta masih terlihat tegang dan kaku. Namun setelah masuk sesi fasilitasi, suasana pelatihan semakin mencair. Baik sesama peserta maupun dengan fasilitator. Suasana kelas berbagi pengalaman inilah yang semakin mendekatkan peserta dengan fasilitator. Kedekatan kian terjalin hangat tatkala di luar sesi pelatihan fasilitator berbaur bareng peserta.  Misalnya pada saat makan siang, fasilitator ikut gabung lesehan.

Dari kedekatan inilah mulai muncul keterbukaan. Mereka berani menceritakan kondisi perpustakaan desa dan hal lain yang melingkupi. Terkadang di luar kelas kita sering mendapatkan banyak informasi penting. Di sinilah saat komunikasi sudah berjalan seirama, sikap respek dan jadi pendengar yang baik diuji. Bahkan pula  ada peserta yang sampai berani berkeluh kesah tentang ekonomi keluarga. Pun rasa empati dan hati ditantang. Empati dan hati tidak hanya terusik saat pelatihan.  Selesai acara masih juga dilibatkan.

Hati? Ya hati. Organ dalam tubuh manusia yang berbentuk segumpal daging. Hati merupakan produk Tuhan yang unik. Apabila hati baik, baiklah seluruh tubuh. Meski ada dua arti hati yaitu daging dan bisikan Rabbani, saya tidak akan masuk jauh ke penafsiran tersebut. Sudah jelas bahwa hati bagaikan pemimpin yang ditaati di dalam tubuh dan yang lainnya adalah rakyat. Berpijak perumpamaan tersebut berarti pikiran, ucapan dan tindakan baik tentunya berasal dari hati yang baik pula.

Maka tidak ada salah jika hati dilibatkan dalam kegiatan Perpuseru. Baik di proses pelibatan masyarakat, peningkatan teknologi informasi dan komunikasi maupun saat melakukan advokasi. Jika semua langkah kegiatan Perpuseru dijiwai semangat hati, niscaya capaian yang akan diperoleh akan berdampak positif pada banyak orang. Lalu, siapa yang perlu melibatkan hati dalam proses tersebut? Tentunya fasilitator perpuseru selaku pihak yang mendampingi perpustakaan desa.

Melalui tulisan ini saya tidak menonjolkan kemampuan diri bisa membawa hati saat memfasilitasi. Namun dampak fasilitasi dengan hati sudah bisa dirasakan di detik-detik akhir pelatihan strategi pengembangan perpustakaan di Kabupaten Jepara. Diawali tiga fasilitator perpuseru diluar sepengetahuan perpustakaan daerah menyiapkan kejutan berupa cinderamata. Jika biasanya cinderamata diberikan pada peserta yang memperoleh banyak bintang, kali ini akan dikasihkan kepada semua peserta pelatihan. Tujuan kita mengakui kalau semua peserta memiliki semangat luar biasa dalam mengikuti proses pelatihan.

Di luar perkiraan, ternyata peserta juga menyiapkan kejutan besar buat fasilitator. Kita disuruh gantian menjadi peserta. Mereka bikin acara yang telah direncanakan. Pembacaan puisi dadakan yang diciptakan khusus acara sore itu. Dibuatkan kue tar khusus buat fasilitator. Saat lilin di atas kue kita tiup, secara perlahan lagu perpisahan mereka nyanyikan. Saat itulah tanpa sadar, air menetes dari sudut mata para ibu peserta perempuan. Peserta laki-laki hanya menahan luapan emosi, bisa terlihat dari merah raut mukanya.

Kejutan lain pun ternyata masih mengantre. Bingkisan berukuran besar dibagikan satu persatu kepada kita. Sampai di rumah dibuka berisikan cinderamata dan sepucuk surat. Surat itu tertanda seluruh peserta pelatihan. Berisikan ucapan terima kasih dari hati yang paling dalam. Terima kasih untuk waktu, tenaga, pengalaman dan katanya senyum kita. Peserta berdoa hanya Tuhan yang bisa membalas amal baik kita. Begitu tulisan di akhir surat tersebut.

Muncul Relawan

Berawal kedekatan hati inilah, kami mulai menjalin komunikasi dari hati ke hati. Dari satu perpustakaan desa ke pepustkaan lainnya. Ada perpustakaan desa yang dulu hanya buka layanan 2 hari dalam seminggu, sekarang bisa buka tiap hari. Tambahan buka layanan empat hari dibantu 2 tenaga relawan peserta pelatihan. Tenaga relawan tersebut mengaku memanfaatkan sisa usia untuk kemaslahatan masyarakat. Bila ditelisik ternyata dua relawan tersebut memiliki banyak kegiatan. Satu relawan merupakan pelatih sepakbola. Sementara relawan yang lain meski sudah punya cucu tapi masih aktif sebagai mahasiswa.

Di desa lain juga muncul relawan petugas perpustakaan. Kalau di desa sebelumnya bertugas dari pagi hingga siang, di desa ini mulai siang sampai sore hari. Relawan ini pada pagi hari mengajar di salah satu PAUD desa setempat. Tatkala ditanya kenapa mau jadi relawan perpustakaan, ia mengaku ingin masyarakat desa bisa memanfaatkan layanan perpustakaan desa secara maksimal.

Munculnya beberapa relawan perpustakaan tentunya tumbuh dari kedalaman hati. Mereka bersedia memanfaatkan sisa waktunya demi kebaikan masyarakat. Mereka mempersilakan masyarakat untuk merasakan kucuran keringatnya untuk datang ke perpustakaan desa. Mereka ikhlas sepenuh hati mengorbankan waktu dan tenaga demi kemajuan perpustakaan. Dari hal baik inilah, tentunya hasil yang akan dinikmati oleh masyarakat pasti akan lebih baik pula. Itu harapan kita semua. Jika masyarakat secara totalitas mengusung kemajuan perpustakaan. Bagaimana dengan kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam