DUNIA YANG BERBEDA

Oleh : WAHYU TRI TEJO

WahyuIni sebuah tulisan yang mungkin tanpa pesan,

Ini sebuah rangkaian yang mungkin tanpa aturan,

Ini sebuah perjalanan yang mungkin tanpa tujuan…

Pernah bekerja di tempat yang jauh dari tempat tinggal. Sekitar 15 tahun yang silam. Berjarak 34 km, membutuhkan 1,5 jam bila ditempuh dengan sepeda motor. Setiap hari berkejaran dengan waktu dan menembus padatnya lalu lintas saat berangkat maupun pulang selalu menguras energi. Pekerjaan yang ‘keras’ sebagai mekanik, karena berhadapan dengan mesin dan logam. Teknologi gadget belum secanggih saat ini. Pesan singkat (SMS) dengan handphone belum lazim digunakan. Jika berhalangan hadir, maka izin diantarkan melalui surat tulisan tangan atau menggunakan telepon umum. Komputer baru lazim ada di kantor-kantor, belum masuk rumah-rumah.

Besar dan menempuh pendidikan hingga sekolah menengah atas di sebuah kota kecil. Nasib juga menggariskan bahwa belum bertemu komputer meski telah lulus sekolah menengah. Selain lapangan olah raga, hiburan yang murah dan mengasyikkan adalah di perpustakaan daerah. Bangunannya yang tenggelam diantara kantor pemerintahan lain selalu ramai di datangi pelajar. Ada kotak kayu dengan loker-loker kecilnya dengan tulisan huruf alfabetis. Di dalamnya tertulis judul, pengarang, penerbit, dan kode buku yang dimiliki perpustakaan.

Tiga tahun diperantauan, punya teman yang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Jabatannya setingkat asisten manajer. Di sela kesibukannya, ia mengajari saya mengoperasikan komputer. Menata tulisan pada lembaran kertas di Word, hingga rumus sederhana mengurutkan nomor dengan rumus di Excel. Dengan sebuah komputer pinjaman, CPU-nya horizontal dengan monitor yang ‘duduk’ di atasnya. Meski belum tahu untuk apa belajar komputer, saya tetap mencatat petunjuk teman saya di buku tulis. Melalui dirinya pula, saya mendengar cerita tentang ‘sihir’ baru yang bernama internet. Siapa yang menggunakan teknologi tersebut dapat melihat apa yang diinginkan, dan dapat menemukan apa yang dicari. Sebuah mimpi di siang bolong untuk bisa mempelajari ilmu tersebut, pikir saya waktu itu.

Tak lama kemudian, komputerisasi mulai diterapkan di berbagai lembaga pendidikan. Lalu, orang desa seperti saya terasa ketinggalan. Harus antri di rental komputer untuk membuat tugas kuliah. Terkadang mesti menginap karena tengah malam baru dapat giliran. Tulisan sehalaman A4 yang lama dan melelahkan. Terbata-bata menekan tombol keyboard sambil sesekali melihat layar monitor. Belum lagi ketika di print hasilnya berantakan. Baris dengan spasi yang tidak sama, dan margin kertas yang terlalu ke tepi.

TIK Kini

Setelah lebih dari 10 tahun masa itu berlalu. Perkembangan TIK di Indonesia mulai merangkak naik, meski belum cukup menggembirakan. Hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), angka pertumbuhan pengguna internet di Indonesia hingga akhir 2013 mencapai 71,19 juta orang. Survei ini juga mengungkapkan penetrasi internet di Indonesia saat ini baru sekitar 28 persen dari total populasi penduduk Indonesia. Pasalnya, saat ini akses internet di Indonesia masih belum merata.

Internet juga telah banyak dimanfaatkan oleh para pelaku UMKM. Dalam hal ini, e-mail (mengirim dan menerima) menduduki posisi teratas dengan nilai 95,75 persen. Kedua, internet dimanfaatkan untuk mencari berita/informasi (78,49 persen), ketiga, mencari barang/jasa (77,81 persen), keempat, informasi lembaga pemerintahan (tender) sebesar (65,07 persen), dan barulah untuk sosial media sebesar 61,23 persen.

Khususnya, soal kecepatan akses internet. Indonesia, berdasarkan survei Akamai Technologies Inc 2014, berada di peringkat ke-101 secara global dalam hal kecepatan akses internet. Indonesia masih tertinggal dengan negara lain. Belum bisa mengejar kemajuan internet di Korea. Bahkan, masih kalah jika dibandingkan dengan Singapura jika dilihat dari bandwidth internasional.  Singapura memiliki 200 kali lipat kapasitas bandwidth per kapita dibanding Indonesia. Sementara, Indonesia baru memiliki kecepatan akses internet satu koma mbps. Peringkatnya hanya berada di atas Myanmar.

Akan tetapi, internet di Indonesia sebetulnya sudah membaik. Khususnya, bila ditinjau di wilayah perkotaan, seperti Jakarta. Akses internet cepat tidak kalah dengan dalam kota di negara lain. Namun tidak demikian dengan warga masyarakat di pelosok desa, di bukan pulau terpencil sekalipun. Masih bisa kita temukan orang-orang yang pahit teknologi. Tak tahu apa itu internet kecuali hanya namanya. Tak bisa mengoperasikan komputer kecuali hanya tahu bendanya. Masih banyak generasi muda yang belum mengetahui apa itu te-i-ka, apa itu gadget, hashtag, netizen, atau istilah lainnya. Tak perlu jauh-jauh ke pedalaman Papua atau Maluku menemukannya. Di pulau Jawa yang merupakan pusat peradaban Nusantara, masih banyak yang bisa kita temui. Terkurung dalam blank spot area internet.

Daya Tarik PerpuSeru

Pemanfaatan teknologi infomasi dan komunikasi (TIK) di berbagai sendi kehidupan bertujuan untuk mengurangi banyaknya kekurangan dan kelemahan pada teknologi konvensional, yaitu keterbatasan ruang dan waktu.  Melalui penggunaan internet akan memungkinkan segala sesuatu saling terhubung sesuai karakternya yang murah, sederhana dan terbuka. Internet bisa digunakan oleh siapa saja (everyone), dimana saja (everywhere), kapan saja (everytime) dan bebas digunakan (available toevery one). Dengan demikian, penguasaan TIK bagi setiap manusia di abad ini adalah sebuah keniscayaan.

PerpuSeru yang digalang oleh Coca Cola Foundation Indonesia dan Bill & Melinda Gates Fundation, didukung oleh PeacBromo dan Telkom Indonesia adalah sebuah program yang brilliant. Memiliki sasaran tembak yang sangat tepat pada 76 perpusdes dan taman baca di seluruh Indonesia untuk tahun 2014. Pengelola perpusdes dibangun kapasitasnya agar mampu menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat berbasis teknologi informasi. Tujuannya, agar masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Bagi para FP, program PerpuSeru memiliki multiplier effect. Tidak hanya dibekali dengan kemampuan penguasaan TIK, namun juga keterampilan fasilitasi. Training of Trainer (TOT) selama 10 hari di Bali adalah pembekalan memberikan dasar kemampuan bagi para fasilitator (FP) untuk berhadapan dengan masyarakat. Tidak hanya dalam kaitan program, bekal itu bisa menjadi modal kepribadian yang bernilai tinggi, dan bisa diterapkan dalam peran apapun di masyarakat.

Pemilihan perpustakaan sebagai gerbang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sangat relevan dengan kondisi di lapangan. Perpustakaan sudah dikenal oleh masyarakat, terutama kalangan terdidik, sebagai sumber informasi, rumah dari jendela-jendela dunia. Sudah sepantasnya perpustakaan mengambil peran dalam penyebaran TIK dari kelas atas hingga ke tingkat grass root. Perpustakaan adalah rumah ibadah bagi umat haus ilmu. Di dalamnya tidak space bagi miskin kaya, terhormat atau orang biasa. Daya tampungnya lebih luas tanpa memandang perbedaan. Jika dulu mayoritas sumber ilmu itu dari buku, kini diperluas lagi dengan komputerisasi dan internetisasi.

Jarak (Tak) Jadi Hambatan

Kabupaten Batang adalah salah satu wilayah sasaran program PerpuSeru. Sebuah kesatuan wilayah yang strategis. Memiliki garis pantai hingg deretan perbukitan. Dilintasi oleh jalan nasional yang menghubungkan antar wilayah propinsi. Di kawasan sisi utara pulau Jawa ini ada 3 perpusdes terpilih. Cahaya Ilmu di Mentosari (Ms), Ngudi Kawruh di Rejosari Barat (Rb), dan Alami di Sodong (Sd). Tiga tempat dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Hampir sama pun tidak. Status saya sebagai FP pun seperti laki-laki dengan dua istri. Ketiga desa tersebut seperti anak yang berbeda karakter dan tahap pertumbuhannya. Yang paling bungsu malah saya anggap berkebutuhan khusus. Kedua kakaknya juga berbeda, tetapi masih lazimnya seorang anak.

Meski seperti istri kedua, rasa cinta dan lain-lainnya tetaplah tiada duanya. Saya sebut dan lain-lainnya karena menikah bukan cuma berpakaian cinta. Tapi juga berpangankan kewajiban dan bernaung dalam komitmen. Bangunan yang selalu dirawat dan dijaga keutuhannya. Ms,Rb, dan Sd sebagai anak istri kedua, juga berayahkan saya. Apapun yang terjadi dengan mereka, sudah pasti terkait dengan saya. Membahas istri kedua, janganlah bertanya tentang keadilan. Bukan saatnya lagi membicarakan mana yang lebih utama, pertama atau kedua. Perhatian, curahan waktu dan pemikiran riil di lapangan silahkan menjadi bahan penilaian.

Solo, kota dimana saya bertempat tinggal (sementara). Sejauh 152 km jarak yang mesti ditempuh untuk berkunjung ke Ms, terdekat dari Solo. Rb berjarak 19 km dari Ms. Dan si bungsu, Sd ada 200 km jaraknya dari Solo. Butuh 4-5 jam melarikan mesin roda dua, belum termasuk crowded-nya jalur pantura yang memakan banyak waktu. Terbatasnya kesempatan yang ternyata membawa hikmah. Untuk curahan perhatian tidak lah berbeda, karena sekali jalan 3 perpusdes terlampaui. Sangat bersyukur atas kesehatan dan keselamatan yang Tuhan berikan. Berangkat gelap, pulang gelap dengan lancar tanpa hambatan. Hal penting yang saya pelajari adalah bagaimana membawa diri dan menjaga hati. Sesulit apapun yang kita perjuangkan, sebanyak apapun yang kita korbankan, tetap jua ada pihak yang menyangsikan. Bagi saya, itulah namanya kehidupan. Seperti jalanan yang ada di sepanjang wilayah Batang. Berkelok-kelok, bertepian jurang. Naik turun perbukitan. Jika jalan (hidup) mu selalu rata dan lebar, betapa teras membosankan.

Eksistensi D’JoNi

Schedul utama bagi setiap FP setelah mengikuti TOT adalah menyelenggarakan pelatihan bagi pengelola perpusdes terpilih. Baik materi Dasar Komputer dan Internet (TIK) maupun Strategi Pengembangan Perpustakaan (SPP). Bersinergi dengan Perpustakaan Daerah di wilayah masing-masing. Di wilayah kerja Kabupaten Batang, amanah tersebut dipikul oleh tiga orang. Sudadi (de-D) selaku PIC dari pihak Perpusda Batang, dan dua orang FP, Wahyu Tejo (Jojo), dan Chusnia (Nia). Guna menyingkat, mengkolektifkan, dan menyemangati, sebutlah kami D’JoNi. Istilah yang kami gunakan dan populerkan di kalangan pengelola perpusdes. Kumpulan individu dengan keruwetan hidup dan pekerjaan masing-masing. Lokasi geografis tempat tinggal yang sama jauhnya dari Kantor Perpusda sebagai basecamp utama.

Nama hanyalah sebutan kosong jika tanpa aksi nyata. D’JoNi meyakini masing-masing pribadi memiliki kelebihan dan kemampuan lebih dalam menjalani situasi sehari-hari, termasuk dalam program PerpuSeru. Saling memahami posisi dan keadaan masing-masing. Seperti strategi sepakbola. Berbagi peran dalam bertahan, membuka ruang, mengumpan, hingga melepaskan tembakan. Semua itu berdasar dari kebersamaan selama pelatihan, dan tentu pengertian dan kedewasaan berpikir. Untuk urusan birokrasi, Mr de-D yang lebih berperan. Mobilitas dan koordinasi antar perpusdes dan Perpusda, Mrs. Nia mengambil alih. Komunikasi intens dan mentoring hal teknis serta eksekusi kegiatan, Mr Jojo yang melakukan. Tapi tidak baku demikian. Ada kalanya bertukar peran, terutama Jojo dan Nia sebagai sesama FP.

Sebagai pribadi, kepahitan masa lalu dalam penguasaan TIK membawa hikmah dan himmah yang besar. Tanpa diminta pun, seseorang akan mencegah orang lain untuk terperosok di lubang yang sama. Tantangan hari ini belum lah seberapa dibandingkan bulan dan tahun yang akan datang. Tak ingin kemajuan hanya dimiliki oleh mereka yang berada di pusat kota, dan berada punya fasilitas. Maka pemanfaatan layanan komputer dan internet di perpusdes bersama kita tingkatkan. Tak ingin pula kemajuan membawa pergi lokalitas dan keluguan. Maka pendampingan dan pembelajaran bagi pemustaka turut menjadi perhatian.

Pengembangan TIK ke seluruh lapisan masyarakat adalah sebuah keniscayaan. PerpuSeru yang menjadikan perpusdes sebagai basis lokal proses tersebut merupakan langkah yang strategis. Tak hanya bagi sasaran, tetapi juga semua unsur yang ada di dalamnya seperti FP, pemerintah daerah, dan perpusda. Sinergitas yang cair antara internal FP dan PIC, serta secara makro dengan perpusdes dan masyarakat menjanjikan perkembangan TIK di masa yang tidak lama lagi. Tak akan muncul kembali kisah anak desa seperti saya. Pemerataan itu akan dirasakan dan keberlanjutan akan disaksikan.

Jika ini tulisan, sebutlah pendahuluan

Jika ini rangkaian, tunggulah tautan

Jika ini perjalanan, nantikanlah di persinggahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam