Berjuang Sebagai Ruang Publik (perpustakaan desa menjaring pengunjung)

Oleh : Fatih Kudus Jaelani

Abdul quddus

“I have always imagined that paradise will be a kind of Library“

Jorge Fransisco Isidaro Luis Borges. (Sastrawan Argentina, 24 Agustus 1899 – 14 Juni 1986)

Saat pertama kali saya melangkah ke perpustakaan desa sebagai fasilitator perpuseru, saya selalu mengingat dengan jelas kalimat yang disampaikan Borges tentang perpustakaan. Timbul pertanyaan di benak saya, mengapa surga –menurut Borges ini– tak seindah seperti yang diceritakan guru-guru agama saya di sekolah. Di salah satu perpustakan desa program yang saya kunjungi ini, nampak sebuah ruangan yang kecil, buku seadanya (tentu dengan rak buku yang secukupnya pula), dan beberapa kursi yang sepertinya tak pernah ingin duduki. Walaupun demikian, dengan separuh kesedihan (karena perpustakaan di pulau kelahiran saya tak seperti yang dibayangkan Borges), saya berusaha tersenyum, lalu memperkenalkan diri kepada staf perpusdes sebagai fasilitator yang akan membantu perpustakaan desa mengembangkan surga –menurut Borges—yang sedikit meragukan ini.

Pantaslah masyarakat jarang mengunjungi perpustakaan desa selama ini. Ada beberapa alasan yang menjadikannya seperti itu. Pertama, perpusdes ini belum lama terbentuk, maka bisa jadi keberadaannya belum diketahui banyak orang. Kedua, saya pikir –bila kita mengamini imajinasi Borges tentang perpustakaan— apa yang seharusnya terdapat di surga (perpustakaan menurut Borges) tak satu pun dimiliki oleh perpustakaan desa ini. Dan ketiga, saya melihat tidak ada keinginan untuk menjadikannya seperti bayangan Borges. Ketiga alasan ini terangkum pada sumber daya pengelola perpusdes yang ada. Lantas, apakah mereka (staf perpusdes) memahami tujuan dibentuknya perpustakaan desa sebagai ruang publik? Lalu bagaimana mereka memandang perpustakaan desa sebagai ruang publik? Apakah hanya untuk duduk-duduk membaca dan meminjam buku saja? Mari menjawabnya dengan sebuah panduan imajinasi ,seperti yang dilakukan Borges pada abad ke-19.

Perpusdes Sebagai Ruang Publik

Kita tahu, surga adalah sebuah simbol kebahagiaan di mana kita dapat mendapatkan apa saja di dalamnya. Hal ini mengingatkan saya pada tujuan program perpuseru yang ingin menjadikan perputakaan sebagai pusat belajar masyarakat berbasis IT untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Diam-diam saya menyadari bahwa keinginan Program perpuseru adalah membuat surga –menurut Borges—untuk masyarakat.

Mewujudkan perpusdes sebagai ruang publik, di mana masyarakat dapat menjadikannya sebagai pusat belajar, sungguh tak dapat dikatakan semudah memasang kaca mata baru.  Hal ini membutuhkan kesadaran yang penuh untuk melaksanakannya dan mengetahui apa yang sebenar-benarnya dibutuhkan masyarakat. Pelatihan komputer dasar dan internet, ditambah pelatihan pengembangan perpustakaan desa berbasis IT bagi staf perpusdes adalah salah satu jalannya. Pelatihan ini akan menghasilkan kesadaran dan pengetahuan akan pentingnya memahami pekerjaan yang akan kita lakukan.

Sebelumnya, kesadaran dan pengetahuan para staf perpusdes tentang perpustakaan terbatas pada perpustakaan sebagai tempat duduk-duduk membaca saja. Tidak ada kegiatan lain, tidak ada promosi, apalagi kesadaran untuk mengembangkannya. Lebih khusus lagi, belum adanya kesadaran atas pentingnya membuat perpustakaan yang layak sebagai ruang publik, di mana segala jenis kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat dapat dilakukan di sana. Dan beberapa kesadaran tersebut  telah ada setelah pelatihan dilakukan. Tersiratlah gairah yang semoga tegak lurus dengan tindakan. Rencana tindak lanjut menunggu dilaksanakan. Seperti yang dikatakan W.S Rendra, “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”.

Kini perpusdes sedang membenahi diri sebagai ruang publik yang memiliki fasilitas menuju imajinasi Borges. Dengan bantuan dari Perpuseru, kini perpusdes memiliki  tiga buah komputer beserta alat untuk menjangkau isi dunia (internet). Namun apakah perpusdes Kotaraja, Pesanggerahan, Aik mel, Sakra dan Sepit ini telah layak dikatakan sebagai perpustakaan yang surga? Jawabannya mendekati “ya”, bila kita melihat semangat para staf perpustakaan saat ini.

Membaca Kebutuhan Masyarakat

Tentu semangat saja tidak cukup. Perpustakaan desa membutuhkan tambahan kata untuk mewujudkan perpustakaan sebagai ruang publik yang dapat menjaring pengunjung sebanyak-banyaknya. Mungkin kata tersebut adalah ‘tindakan’. Berdasarkan atas materi pelatihan pengembangan perpustakaan, salah satu tindakan yang mesti dilakukan adalah bagaimana melakukan pelibatan masyarakat. Maka dari materi inilah, saya merasa bahwa membaca kebutuhan masyarakat adalah hal yang mesti dilakukan lebih dulu dari yang lainnya. Karena selain bertujuan untuk dapat menemukan tindakan yang tepat sasaran, hal ini juga dapat menjadikan para staf —yang akan berperan aktif mengembangkan perpustakaan desa—menyadari bahwa apa yang dilakukan nantinya tidak lain dan tidak bukan adalah sesuatu yang pada hakikatnya dibutuhkannya pula. Maka dengan memahami hal tersebut, kita tidak lagi menghitung-hitung seberapa jauh langkah yang kita tempuh untuk mencapai tujuan. Karena ini untuk kita, dan memahaminyalah yang paling penting dari segalanya. Bila perpusdes telah mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat selaku pengunjungnya, maka yang mesti dilakukan tinggal menyiapkannya di perpusdes.

Saat ini perpusdes di lima desa program perpuseru (Kotaraja, pesanggrahan, aik mel, sakra dan sepit) sedang melakukan sosialisasi awal tentang adanya pasilitas komputer dan internet di perpusdes. Tentu tiga buah komputer saja tidak cukup untuk membuat masyarakat mau mengunjungi perpustakaan. Ada hal lain yang mesti dilakukan, salah satunya adalah mengadakan kegiatan yang berdasarkan atas kebutuhan masyarakat itu sendiri. Hal-hal lain, inovasi dan gagasan atas dasar kebutuhan masyarakat lainnya menunggu pula untuk ditemukan lalu dilaksanakan.

Pada akhir tulisan saya ini, untuk mengatakan bahwa lima perpustakaan desa program perpuseru di Kabupaten Lombok Timur  sedang menyiapkan diri –dengan penuh semangat– menjadi ruang publik yang sama seperti bayangan Borges, saya ingin mengutip pernyataan Thomas Stearn Eliot, Penyair dan esais Amerika Serikat (21 September 1888 – 4 Januari 1965), yang mengatakan, “The very existance of  Libraries afford the best evidence that we may yet hope for future of  Man”. “Keberadaan perpustakaan merupakan bukti terkuat bahwa kita masih boleh berharap pada masa depan manusia”. Semoga perpusdes di kabupaten Lombok Timur dapat menjadi salah satu bukti  yang benar-benar ada sebagai harapan masa depan bangsa. Terima kasih perpuseru. Salam dari timur untukmu! **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam