Belajar Rantai Nilai Perkedelaian

m_DSC_0068

Potensi kedelai local sebenarnya sangat menjanjikan dan mengalahkan kedelai import jika dikelola secara baik. Kualitas dan kandungannya lebih sehat dan segar sehingga bisa menjadikan produk olahan kedelai yang berkualitas. Itulah kesimpulan dalam Studi Banding Klaster Kedelai Lamongan yang diikuti oleh 40 orang petani, dinas terkait maupun Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari Kabupaten Lamongan (12-14/11/2015) kemarin di Grobogan Purwodadi dan Yogyakarta.

Dalam kunjungan yang diinisiasi oleh Bank Indonesia KPW Jawa Timur tersebut peserta antusias untuk mempelajari kedelai dari hulu sampai hilir. Yakni dari proses on farm ketika budidaya yang memperkenalkan varietas Grobogan, pemuliaan benih, hingga pengolahan hasil kedelai menjadi produk olahan yang berkualitas seperti tempe higienis maupun brownis kedelai dan susu kedelai (off farm) Dalam kunjungannya ke Rumah Kedelai Grobogan peserta Studi Banding diarahkan untuk mempelajari budidaya dan pemuliaan benih sehingga mampu menjadi petani penangkar benih yang berkualitas. Selain itu juga belajar mengenai pengolahan pasca panen menjadi produk olahan yang berkualitas.

Sedangkan dalam kunjungannya ke KSU Mekarmas Kulon Progo Yogyakarta peserta mempelajari mengenai dinamika kelompok dan simpan pinjam yang awalnya adalah kelompok tani dan berhasil membuat koperasi serba usaha. Dalam kunjungan ke KSU Mekarmas, petani juga mempelajari pola kemitraan dalam budidaya kedelai dengan perusahaan multinasional terutama dalam penyediaan kedelai hitam. Selain itu juga peserta mempelajari mengenai simpan pinjam dalam kelompok.

Sedangkan ketika berkunjung ke Primkopti Gunung Kidul peserta studi banding mempelajari dan membuka jaringan dalam hal pemasaran kedelai. Di Primkopti ini terdapat unit usaha rumah tempe yang mempunyai visi untuk merubah budaya pengrajin tempe dan tahu disekitar gunung kidul agar menggunakan kedelai lokal dan melakukan proses pembuatan tempe secara bersih dan higienis. Potensi usaha tempe higienis sendiri sangat terbuka lebar dan mendapat respon yang positif dari masyarakat.

Meskipun dari sisi harga relative sedikit mahal, namun kandungan tempe kedelai lokal yang non CMO sehat dan bergizi pasarnya cukup bagus. Potensi inilah yang dipelajari dan diharapkan mampu direplikasi untuk pengembangan klaster kedelai Bank Indonesia di Lamongan. PEAC Bromo yang mendampingi selama kunjungan juga diberikan kepercayaan untuk mendampingi para petani dalam mengembangkan kedelai varietas lokal yang berkualitas. Diharapkan ketergantungan terhadap kedelai import dapat dikurangi untuk mewujudkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani kedelai. Fahmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam