Afif Dapat Ide Bisnis Saat Hujan Deras Datang

Ide bisnis bisa datang kapan pun dan di mana pun. Begitulah yang dialami Mochamad Afif, produsen jas sepatu merek Fun Cover di Surabaya, Jawa Timur. Ide usaha ini didapatnya dari pengalaman pribadi saat ia kesulitan melindungi sepatunya dari hujan.

Ia mendapat ide tersebut saat masih mahasiswa di STIE Perbanas, Surabaya. Kejadiannya bermula pada tahun 2008. Suatu pagi, Afif yang hendak berangkat kuliah dengan menggunakan sepeda motor kehujanan di tengah jalan.

Kendati tubuhnya sudah terlindungi jas hujan, tapi tidak demikian dengan sepatu yang ia kenakan. Untuk menyiasati, ia kemudian membungkus sepatunya itu dengan kantong plastik.

Dari situ, ia lalu mendapat ide untuk membuat pelindung sepatu bagi para pengendara motor di kala hujan. “Di tengah-tengah masalah ternyata ada peluang bisnis,” ujarnya.

Belakangan, ide yang nampaknya sederhana ini sukses mengantarkan Afif dari mahasiswa biasa menjadi pengusaha dengan omzet ratusan juta rupiah. Untuk merealisasikan idenya itu, ia pun meminjam uang dari sang kakak sebesar Rp 500.000.

Awalnya, ia hanya memproduksi jas sepatu sebanyak 30 pasang per bulan. Produk jas sepatunya ini diberi merek Fun Cover. Di awal produksi, ia langsung menjual produk jas sepatu itu ke konsumen.

Setelah usahanya berjalan enam bulan, Afif kemudian mulai memasarkan produknya lewat internet. Ternyata, produk ini mendapat sambutan positif dari pasar. Karena pesanan meningkat, ia pun menggenjot produksi hingga 500 pasang per bulan.

Setelah usaha terus berkembang, Afif pun mencoba menerapkan sistem pemasaran baru. Ia tidak lagi menjual jas sepatu secara langsung ke pembeli. Namun, ia mengumpulkan reseller dari pelbagai kota untuk memasarkan produk jas sepatunya.

Reseller ini diharuskan membeli produk dalam jumlah banyak. Namun, untuk reseller ini diberikan harga grosir sebesar Rp 20.000 per pasang. Reseller bisa menjual ke konsumen Rp 35.000 per pasang.

Kini, Afif mampu memproduksi 7.000 pasang jas sepatu dalam sebulan, dengan omzet mencapai Rp 140 juta. “Iya segitu, tapi kadang-kadang omzet bisa turun,” tutur pria yang berusia 23 tahun ini.

Pertumbuhan produksi jas sepatu ini, kata Afif, tidak terlepas dari dukungan yang diberikan kampusnya. Beberapa bulan setelah mendirikan usaha jas sepatu, Afif diikutsertakan dalam lomba proposal bisnis oleh STIE Perbanas.

Selain itu, ia juga pernah mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa 2008. Dari program itu, Afif mendapat dana hibah Rp 7 juta. Lalu, ia juga pernah mendapat bantuan modal Rp 10 juta dari Program Mahasiswa Wirausaha. “Itu disponsori Dikti Kementerian Pendidikan,” ucap dia.

Semasa mahasiswa, Afif juga pernah meraih sejumlah prestasi di bidang wirausaha. Diantaranya juara satu Bina Mahasiswa Wirausaha Pertamina tahun 2010. Lalu, juara satu Pemuda Pelopor Kewirausahaan Surabaya yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat.

Setelah lulus kuliah tahun 2011, ia juga pernah menjadi finalis nasional Wirausaha Muda Mandiri.

Di usia yang masih muda, Mochamad Afif sudah sukses menjadi produsen jas sepatu merek Fun Cover. Bisnis yang ia rintis sejak masih mahasiswa ini telah menghasilkan omzet paling tidak Rp 140 juta per bulan.

Ada pun kapasitas produksinya kini mencapai 7.000 pasang jas sepatu per bulan. Afif sendiri sudah memiliki sebuah pabrik skala kecil di daerah Sidoarjo, Jawa Timur

Pabrik tersebut mempekerjakan sekitar 10 karyawan tetap. Tujuh orang diantaranya bertugas menjahit sepatu. Sementara tiga orang lain bekerja di bagian administrasi.

Selain karyawan tetap, Afif juga mempekerjakan tenaga freelance. Mereka dilibatkan untuk menjahit merek dan detail produk lainnya. Kebanyakan tenaga freelance ini merupakan ibu-ibu rumah tangga yang ada di sekitar lokasi usahanya.

Ia sengaja melibatkan ibu-ibu rumah tangga karena ingin bisnis yang dikelolanya juga memberikan dampak sosial bagi lingkungan sekitar. Mayoritas usia karyawan jauh di atas usia Afif yang kini baru menginjak 23 tahun. Sementara mayoritas usia karyawannya sudah 40 tahun hingga 50 tahun.

Bagi Afif, persoalan beda usia dengan bawahan ini kadang menjadi kendala juga. Apalagi jam terbangnya di dunia usaha masih sedikit. “Kadang saya menjadi kesulitan dalam mengatur karyawan,” ujarnya.

Ia mengaku, kadang merasa segan untuk memarahi atau berlaku tegas pada karyawannya. Sementara bila tidak bersikap tegas, kerjaan tidak selesai.

Menyadari situasi itu, Afif belajar pun untuk bersikap luwes setiap kali menghadapi karyawan. “Saya bersikap tegas tapi tidak terlalu keras,” ujarnya.
Pendekatannya ke karyawan itu lumayan berhasil. Sampai sejauh ini, setiap karyawan selalu mematuhi apa yang diperintahkannya.

Sampai saat ini, Afif bersama karyawannya masih terus bahu-membahu membesarkan usaha. Dalam hal produk, misalnya, Afif terus meningkatkan kualitas jas sepatu bikinannya.

Beda dengan di awal-awal produksi, produk jas sepatu buatan Afif kini semakin bisa diandalkan dalam melindungi sepatu dari guyuran air hujan.
Ketika pertama kali produksi, produk jas sepatu masih menggunakan bahan kain sebagai alas sepatu. Ketika dipakai saat hujan, air masih masuk ke dalam sepatu.

Alhasil, fungsinya sebagai pelindung sepatu hampir tidak ada. Afif kemudian melakukan perbaikan. Bukan hanya mengganti bahan baku, ia juga memperbaharui model jas sepatunya.

Saat ini, ia menggunakan spons sebagai bahan baku jas sepatu. Korelasi partikel pada bahan spons lebih kecil, sehingga bisa menahan air masuk ke dalam sepatu. Afif merasa cukup puas dengan produk jas sepatu yang sekarang. “Sudah 85% sepatu terproteksi. Masih ada sedikit rembesan air di sepatu, tapi masih bisa dipakai,” tuturnya.

Ia pun kian percaya diri memasarkan produk jas sepatunya itu. Sampai saat ini, jas sepatu Fun Cover sudah memiliki lebih dari 200 distributor di seluruh Indonesia. “Hampir 80% daerah di Indonesia sudah mengenal produk jas sepatu kami,” katanya.

Mochamad Afif mulai merintis usaha pembuatan jas sepatu pada tahun 2008. Ia mengklaim, sebagai orang yang pertama kali memproduksi jas sepatu. Belakangan, kata Afif, banyak orang mengikuti jejaknya memproduksi barang yang sama.

Namun, ia tidak merasa tersaingi dengan kehadiran para kompetitor itu. “Prinsip saya, rezeki tidak akan tertukar. Saya tetap berinovasi, jadi tidak perlu menjatuhkan dengan cara negatif,” katanya.

Afif menerapkan prinsip persaingan sehat dalam usaha jas sepatu. Untuk memenangkan persaingan, ia memilih fokus meningkatkan kualitas produk.
Di bidang pemasaran, ia juga gencar menjaring reseller di daerah-daerah.

Ia ingin, suatu saat nanti, jaringan reseller-nya bisa ditemukan di semua daerah di Indonesia. Tidak hanya di dalam negeri, Afif juga gencar memasarkan produknya hingga mancanegara. Beberapa kali, ia pernah mendapat pesanan dari pembeli di luar negeri ini.

Pada 2011, misalnya, ia pernah mengekspor 1.000 pasang jas sepatu ke Malaysia. “Kalau di luar negeri saja diterima, tentu saya optimistis bisa menguasai Indonesia,” kata Afif.

Kendati fokus membesarkan produksi jas sepatu, Afif tetap berencana melakukan diversifikasi produk. Ke depannya, ia ingin memproduksi produk-produk lain, seperti pelindung tas, pelindung helm, dan pelindung badan alias jas hujan.

Produk-produk pelindung hujan ini akan didesain untuk bisa dipakai meski tidak dalam kondisi hujan. Dengan begitu diharapkan, penjualan produknya tidak tergantung pada musim hujan saja.

Selama ini, penjualan produknya hanya ramai ketika sedang musim hujan. Sementara ketika memasuki musim kemarau, omzet bisnis Afif bisa anjlok hingga 50% dari penjualan di musim hujan.

Kendati melorot, diakui Afif, omzet itu masih bisa menutupi biaya produksi. “Diversifikasi produk itu akan saya terapkan untuk meningkatkan omzet pada musim kemarau,” ujarnya.

Ia juga ingin produk jas sepatunya bisa dipakai di segala cuaca dan musim. ” Di musim kemarau bisa berfungsi melindungi dari debu dan kotoran,” katanya.Tentu, dari segi desain dan bahan baku akan disempurnakan lagi.

Untuk merealisasikan semua rencana itu, tentu diperlukan kerja keras dan kesungguhan. Keinginannya untuk membesarkan ushaa tidak berhenti disitu.

Setelah sukses melakukan diversifikasi produk, ia juga ingin ekspansi ke negara lain. Dengan catatan, jumlah pengguna motor di negara itu juga banyak seperti di Indonesia. “Selain Malaysia, semoga saja saya bisa ekspansi bisnis ke Vietnam, China, dan Thailand,” tutupnya.

Kendati sibuk memikirkan rencana-rencana untuk membesarkan usahanya, Afif tetap menaruh perhatian terhadap lingkungan sekitar tempat usahanya. Kepeduliannya ditunjukkan lewat program corporate social responsibility (CSR) yang digagasnya.

Dalam program ini, ia menyisihkan Rp 250 dari setiap penjualan sepasang jas sepatu untuk orang-orang tidak mampu. Afif juga ingin memberdayakan pemuda karang taruna untuk ikut membantu aktivitas pabriknya.

Sumber ; kontan. Co id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam