10 Kesalahan StartUp

Ada beberapa faktor yang menentukan keberhasilan sebuah startup , baik segi internal maupun eksternalnya. Dari segi internal, faktor yang paling menentukan adalah mindset  founder/co-founder . Apakah mereka siap memperlakukan startup  sebagai sebuah bisnis sungguhan atau hanya main-main?

Dari segi eksternal, faktor yang paling menentukan adalah market  atau pasarnya. Apakah sudah tepat, sudah siap, sudah teredukasi dengan benar? Pasalnya, pada akhirnya pasar akan berpengaruh pada monetisasi dan tentu saja berpengaruh besar pada lama/tidaknya startup  bertahan. Dua hal umum yang menyebabkan startup  gulung tikar adalah surutnya passion  para founders  dan habisnya dana.

Selain itu, ada beberapa kesalahan yang harus dihindari saat membangun sebuah startup , di antaranya:

1 Nilai yang ingin diangkat tidak jelas.

Kesalahan pertama yang biasanya dilakukan oleh startup  adalah ketidakjelasan tujuan pembuatan. Misalnya, mengadopsi situs-situs yang sudah ada di luar negeri, tapi tidak memberikan nilai tambah yang jauh lebih baik daripada situs yang diadopsi.

2 Tidak mampu mengidentifikasi dan mengualifikasikan pengguna.

Banyak startup  di Indonesia masih menganggap target penggunanya adalah seluruh rakyat Indonesia. Padahal, pangsa pasar startup paling besar adalah 40 juta pengguna internet di Indonesia. Dari 40 juta ini saja, belum tentu semuanya tertarik. Terlalu luas mendefinisikan potensi pengguna akan menghabiskan tenaga dan biaya marketing secara sia-sia. Semakin tajam mengidentifikasi pelanggan, kita dapat fokus ke pengguna-pengguna potensial ini dan dapat memberikan servis ekstra, juga dengan biaya yang lebih murah.

3 “Produk kami tidak memiliki kompetitor!”

Hal pertama yang harus dilakukan pemilik startup  adalah riset! Paling murah? Tentu saja Googling  di internet dan mencari kompetitor yang memiliki model yang sama.

Dengan memahami kompetitor, kita dapat menganalisis faktor sukses yang mereka miliki dan harus kita adopsi sekaligus faktor gagal yang mereka miliki dan harus kita hindari. Dengan menganalisis kompetitor, kita tidak akan terjatuh ke kubangan yang sama yang dialami kompetitor dan menjadi lebih sukses dari mereka.

4 Angka proyeksi pendapatan dan pengeluaran tidak masuk akal.

Anda tidak boleh memproyeksikan pendapatan terlalu optimis dan jangan memproyeksikan pengeluaran terlalu kecil. Hal paling mudah dalam melakukan proyeksi adalah mencari tahu pendapatan yang didapatkan kompetitor. Angka tersebut dapat dijadikan landasan perhitungan pendapatan kita. Misalnya, mereka dapat melakukannya dalam waktu 1,5 tahun, maka kita membuat proyeksi pesimis dengan target angka tersebut dalam 3 tahun. Investor yang melihat angka “rasional” ini akan lebih memercayai Anda dan peluang Anda di investasi  menjadi lebih tinggi.

5 Ketidakmampuan mengatur keuangan.

Terkadang, pemilik startup terlalu agresif dalam mengembangkan startup -nya. Contohnya, menambah orang sebanyak mungkin dengan harapan akan mempercepat pertumbuhan. Jika tidak berhati-hati, startup  akan keburu kehabisan uang sebelum mereka mencapai titik tumbuh yang optimal.

6 Ketidakmampuan mengidentifikasi milestone yang jelas dan dapat dicapai.

Banyak startup  yang membuat situsnya tanpa tujuan jelas. Founder  jenis ini hanya sedang menjalankan hobinya ketimbang serius mengembangkan bisnis. Bisnis yang baik harus memiliki target dan deadline yang spesifik, serta harus jelas dan dapat dicapai.

7 Tim manajemen yang tidak seimbang.

Banyak founder  startup yang memiliki latar belakang teknis. Masalahnya, dunia bisnis, apalagi jika ingin mendapatkan investasi maupun klien, membutuhkan lebih dari kemampuan teknis. CEO (Chief Executive Officer ) harus memiliki jaringan relasi yang luas serta kemampuan berkomunikasi dan menjual yang sudah mendarah daging. Ingat, tripod startup  adalah marketing  – technical  – desain. Tanpa salah satunya, maka tripod tidak akan bisa berdiri dengan sempurna.

8 Board of Directors yang lemah.

Sekali lagi, startup  bukanlah sekadar website . Startup  adalah bisnis, dan dalam setiap bisnis, agar operasional tetap berjalan, maka pendapatan perlu dimiliki. Investasi dari investor bukanlah pendapatan, namun utang. Jadi dengan memiliki tim Board of Directors  yang komersial akan membantu pemilik startup untuk tetap di jalurnya dan mendapatkan keuntungan. Mereka pulalah yang membantu mengatur agar pengeluaran tidak lebih besar pasak daripada tiang.

9 Tidak memiliki rencana cadangan (hal ini pasti terjadi!)

Pivot adalah terminologi yang dipakai di industri startup  untuk menunjukkan bahwa sebuah startup  mengubah model bisnisnya ke dalam bentuk yang lain. Dalam dunia startup , kita tidak dapat menebak apakah startup  kita dapat diterima oleh pengguna atau tidak. Startup  yang sukses di luar negeri belum tentu bisa kita adopsi di pasar domestik.

Oleh karena itu, banyak pemilik startup  yang secara lebih awal melakukan launching  situsnya guna mendapatkan masukan yang berharga dari para pengguna. Tanpa ini, kita hanya berlandaskan pada asumsi. Jika kita sudah bertindak terlalu jauh, misalnya mengeluarkan dana yang besar atau mengembangkan situs yang terlalu besar tanpa tahu apakah pasar akan menerimanya, kita mungkin akan mengalami kekecewaan yang luar biasa jika startup  kita gagal.

10 Tidak memiliki exit strategy.

Ketika kita memulai startup , atau saat startup  berkembang, kita harus sudah mulai memikirkan exit strategy . Baik itu dengan strategi “lifestyle business ”, di mana Anda menggaji besar diri Anda, atau membesarkan ekuitas sehingga nantinya bisa ditukarkan dengan tunai. Pilihan ini akan menentukan bagaimana Anda membesarkan bisnis Anda untuk mencapai tujuan akhir Anda.

Jika Anda berencana exit  dan mengubah ekuitas menjadi tunai dengan cara menjual startup  Anda, merger atau melalui IPO (Initial Public Offering ), maka semenjak awal sudah mempersiapkan tahap-tahapnya. Misalnya, memperbesar ekuitas dan nilai perusahaan dengan menciptakan produk unik, kontrak kerja, saluran distribusi yang luas, mendapatkan hak paten dan memperbesar basis konsumen. Pada akhirnya, Anda ingin membuat sebuah usaha yang memberikan nilai ke orang lain, tanpa harus tiap hari bekerja untuk menjalankannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by WP Anti Spam